Indonesia English
Senin, 25 Maret 2019 |
Nasional

SETELAH TUBAN, MALANG & SOLO SAATNYA MUSEUM KOES PLUS ADA DI JAKARTA DAN KOTA LAINNYA

Jumat, 15 Maret 2019 07:44:20 wib - Komentar
Koes Plus.

Oleh : Seno Suponou.

TIDAK cukup gelar yang disematkan kepada Kus Bersaudara (Tonny Koeswoyo, Nomo Koeswoyo, Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo ) serta Koes Plus (Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo dan Murry) sebagai band legendaris. Namun sejatinya peran Kus Bersaudara dan Koes Plus dalam konteks mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat besar dan strategis. Dan itu juga diakui oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Band ini secara nyata dan bertanggungjawab menjadi penjaga pintu gerbang NKRI, Kebhinekaan dan Toleransi melalui serial lagu Nusantara sejak Nusantara 1 hingga Nusantara 2000, juga pada lagu Nuswantoro, Jiwa Nusantara, Nusantara Nusa Laut Biru, Nusabahari Nusantara, Hujan di Nusantara serta menjaga perekonomian bangsa dari hegomoni modal asing melalui Koperasi Nusantara.

Semua pemuda harus siap sedia membela dan menjaga serta menyerahkan jiwa raga  jika negara dalam keadaan bahaya. Simaklah penggalan lyrik lagu berjudul " Jiwa Nusantara " yang ditulis Tonny Koeswoyo.

Sinar mataku api/

Rentang tanganku besi/

Langkah kakiku pasti/

Daya pikirku suci.

Aku disini/

Aku disana

Aku jiwa muda/

AKu jiwa Nusantara.

 

Lagu ini menginsyaratkan untuk menjaga NKRI, diperlukan pemuda berbadan tegap, sehat dan kuat serta bermental baja namun bermoral baik.

Jika dilingkungan kita bisa hidup berdampingan dengan tetangga, senantiasa memelihara tali silaturahmi, berinteraksi tanpa memandang asal - usul dan apa agamanya, merawat cinta kasih dan kesetiaan kepada pasangan hidup, menjunjung tinggi nilai - nilai persahabatan, tidak berkhianat kepada teman, saling menghormati kepada yang berbeda keyakinan serta memelihara kerukunan, guyub dalam membangun desa,  itulah sebenarnya esensi mendalam dari lagu - lagu Koes Plus  yang sarat dengan filosofi hidup.  Sehingga lagu Koes tetap " up to date " dan selalu relevan dengan perkembangan zaman karena musisi Koes Plus (Kus Bersaudara) mampu membaca tanda - tanda zaman.

MUSEUM UNTUK SANG LEGENDA

Sebagai bentuk rasa hormat dan apresiasi untuk sang legenda, telah berdiri 2 museum Koes Plus (Koes Bersaudara) di Tuban kota kelahiran Tonny, Nomo, Yon dan Yok dan di Malang.  Saat ini sedang dirintis oleh para pengurus Jiwa Nusantara yakni museum Koes Plus (Koes Bersaudara)  dikota Solo.

Namun yang menarik adalah pernyataan dari personel band Pelestari The Hit dari kota Bekasi, Tony. Dia mengharapkan adanya museum Koes di Jakarta. " Saya penggemar dan pelestari mega karya Kus Bersaudara dan Koes Plus, sangat bangga sekali dengan telah berdirinya museum Koes diberbagai kota. Koes adalah sang legenda yang prestasinya luar biasa dan hingga kini lagu - lagunya masih berkumandang di Nusantara. Mereka adalah musisi kelahiran Tuban (Jatim) namun kiprahnya begitu dahsyat di Jakarta. Besar harapan saya museum Koes Plus bisa berdiri di Jakarta," pinta  Tony jika manggung  " stage act " nya seperti Tonny Koeswoyo yang menaruh gitar didada.

(Catatan penulis : Defenisi band Pelestari adalah band yang melestarikan mega karya Kus Bersaudara dan Koes Plus lintas generasi. Mereka secara konsisten dan massive menyanyikan lagu - lagu milik Kus Bersaudara dan Koes Plus. Berjuang keras menata vocal mirip Kus Bersaudara dan Koes Plus bahkan mencontek habis gaya Koes Plus dalam berpakaian, misalnya mengenakan celana cut bray seperti sering dikenakan oleh personel band pelestari dari Jakarta T.Koes dan nyatanya dalam istilah anak Medan " sadap nian di pandang ".)

Masih terkait museum Koes Plus (Kus Bersaudara) di Jakarta, tentu ini suatu masukan yang amat berharga untuk ditindaklanjuti para pegiat sang legenda seperti Yayasan Koes Bersaudara atau organisasi Jiwa Nusantara atau siapa saja yang memiliki kepekaan, kepedulian, rasa cinta mendalam kepada sang legenda.

Kus Bersaudara dan Koes Plus sudah memberikan kesenangan yang luar biasa kepada kita, wajar jika kita semua memberikan rasa hormat penuh khidmat  kepada mereka dengan melakukan langkah nyata untuk menjaga dan melestarikan mega karya emas mereka lintas generasi.

MERINTIS MUSEUM DI KOTA KOES PLUS

Yogya dan Solo layak memperoleh  predikat sebagai " Kota Koes Plus ".   Indikatornya antara lain seperti dikatakan pegiat Koes Plus (Kus Bersauda) yang terus bergerak Ir. Wasis Susilo, MM yang juga ketua ormas Jiwa Nusantara (JN) periode 1 (2004 - 2007) dan penulis buku " Koes Plus Mencintai Nusantara Lewat Musik " mengatakan, di Indonesia saat ini terdapat 358 group band Pelestari yang khusus membawakan lagu - lagu Kus Bersaudara dan Koes Plus. 60% berada di Yogya dan Solo. Dikedua kota ini terdapat 30 Stasiun Radio yang setiap harinya mengudarakan lagu - lagu Koes Plus minimal 1 jam dan bisa berlangsung selama 2 jam jika ditambah ulasan perjalanan karier para personelnya.

Sementara itu di Bandung, seperti disampaikan Agus Scudetto leader band Pelestari Scudetto dan Pelangi, Radio Harmoni yang dulu bernama Lita FM dalam mata acara bertajuk Harmoni Budaya secara rutin mengudarakan lagu - lagu Koes Plus (Kus Bersaudara)  melalui streaming radio setiap Selasa dari jam 21.00 hingga 24.00 dipandu penyiar Doni.

Dikota Pacitan lagu - lagu Koes mengudara setiap harinya  selama 2 jam di Radio Citra Buana  Youk Yes mulai pukul 15.00 hingga jam 17.00 di gelombang 91,2 M.Hz. Pemilik Radio Citra Buana adalah Masruri Abdul Goni, Ketua Jiwa Nusantara Pacitan.

Di Purworejo, seperti diinformasikan fans Koes Plus Setiyowati, lagu Koes mengudara di Radio Amatron setiap Rabu mulai jam 19.00.

Sedangkan Bogor, Koes mengudara di Radio Sipatahunan setiap Sabtu selama 3 jam mulai pukul 10.00. Informasi ini penulis peroleh dari Iwan, pemain band Pelestari dari group Aluspat. Group Ini personelnya adalah para alumni SMPN 4 Bogor. Namun menurut penulis, jika boleh diartikan lain,  Aluspat band adalah mereka ber 4 bermain bagus.

Di Jakarta Radio Sonora dengan jaringannya dikota - kota besar di Indonesia seperti Yogya dan Surabaya rutin menggeber lagu - lagu Koes. Sonora Jakarta mengudara setiap Senin mulai pukul 20.00 hingga jam 22.00 digelombang 92,0 FM.

Di Yogya seperti diungkapkan Ketua Komunitas Koes Plus JN Yogya, Wowo Sastro Nugroho selain Sonora Jaringan, inilah Radio yang rutin mengudarakan lagu Koes yakni RRI, Retjo Buntung, GCD dan MBS.

Dikota Kudus seperti diinfokan fans Koes, Ngaidi lagu - lagu band legendaris ini diputar secara rutin di Radio Suara Kudus (SRK) pada gelombang FM 1.880 setiap Kamis malam mulai jam 21.00 hingga 24.00.

Dikota - kota lain tentu masih banyak stasiun Radio yang aktif mengudarakan lagu milik sang legenda yang tidak pernah " lapuk karena hujan dan lekang karena panas" dan tidak pernah " mati " karena digerus zaman.

MUSEUM KOES PLUS (KOES BERSAUDARA)

Penulis menyorongkan pertanyaan kepada Wasis Susilo. Nama museum yang tepat itu apa ? Museum Kus Bersaudara kah, museum Koes Plus kah, museum Koes Bersaudara Plus kah atau museum Koes Plus bersaudara?.

Wasis menjawab yang tepat adalah Museum Koes Plus (Koes Bersaudara) dengan penjelasan sbb : Saya menolak sebutan Koes Bersaudara Plus atau Koes Plus bersaudara. Karena sesungguhnya nama itu tidak dikenal oleh masyarakat atau industri musik Indonesia dan A.Historis. Selain itu akan menyulitkan dalam urusan legal dan hukum bila ada masalah. Lagiam sekalipun ada personelnya yang sama, kedua nama tetaplah entity yang berbeda dengan catatan prestasi yang berbeda pula, jelas Wasis.

POINT PENTING MUSEUM

Dalam penjelasannya kepada penulis lebih lanjut dan masih terkait museum Koes Plus ( Koes Bersaudara), Wasis memaparkan point penting antara lain :

1. Museum Koes Plus (Koes Bersaudara)  sudah dirintis pendiriannya dikota Tuban menempati sebuah gedung Doom ex Terminal Tuban ditepi pantai. Diresmikan 2017, tapi belum tumbuh sesuai harapan.

2. Museum Koes Plus (Koes Bersaudara) di Batu Malang menempati salah satu ruang museum musik dunia Jatim Park III.

3. Pada 2013 pengurus JN Solo audiensi dengan Direktur perusahaan rekaman musik Lokananta di Solo. Tujuannya adalah mencari tempat yang memadai untuk hadirnya museum Koes Plus (Koes Bersaudara).  Namun upaya keras dan idealis rekan - rekan JN tidak memperoleh respons dari Direktur Lokananta kala itu karena mindset sang dirut adalah bisnis dan JN harus menyewa ruangan sehingga pertemuan itu tidak ada tindak lanjut yang signifikan.

Pada 2019 terjadi penggantian direksi di Lokananta dan pengurus JN kembali memperkenalkan diri ke jajaran direksi. " Kita bicara konsep. Museum mengutamakan pendidikan dan pelestarian. JN sedang menggodog konsepnya ", urai Wasis.

Dalam persiapannya nantinya museum Koes Plus (Koes Bersaudara)  akan menempati ruang yang kosong di Lokananta menjadi bagian dari kunjungan wisatawan mempelajari industri musik dan proses rekaman.

Rencana isi museum Koes antara lain Dekorasi Retro tahun 60 an hingga 70 an, tapi dioperasikan secara digital, dilengkapi ruang layar lebar dan monitor touchscreen yang bisa didengarkan melalui HP dan display seluruh Piringan Hitam (PH) dan kaset Kus Bersaudara dan Koes Plus. Jika tidak ada, maka paling tidak replikanya, turntable dll. Demikian juga alat musiknya yang pernah dipakai Kus Bersaudara dan Koes Plus, ungkap Wasis.

" Saya gembira proses pelestarian Koes Plus bisa dilaksanakan oleh berbagai pihak. Ada yang nirlaba dan ada juga yang berlatar belakang bisnis," tambah Wasis. Menurut saya, ungkapnya lagi, saya kira museum adalah bagian dari sempurnanya dari proses pelestarian Koes Plus, setelah menggalang masyarakat, penggemar, kolektor, personel band Pelestari, lalu kerjasama dengan seluruh media dan tempat mengapresiasi seperti panggung THR, cafe - cafe dll nya dan disempurnakan dengan berdirinya museum.

Sebenarnya, masih urai Wasis, beberapa museum sudah dibuat secara parsial oleh para penggemar. Antara lain bang Agus Lubis (Jakarta), Kang Tjetjep Rosadi (Bekasi), mas Edy Kuncoro  (Solo), Ki Narno (Yogya), mas Wowo Sastro (Yogya), mas Natsir (Semarang), kang Aep (Bandung) dan mungkin masih banyak lagi yang tidak kita ketahui, tuturnya.

" Konsep museum sudah saya presentasikan dihadapan pak Yok Koeswoyo dan para penggemar Koes Plus saat pendirian JN  pada 18 Januari 2014 di rumah pak Agus Giri. Sedangkan pendirian museum di Tuban saya revisi mengikuti kebutuhan setempat," . Demikian pegiat Kus Bersaudara dan Koes Plus yang juga ketua JN periode I (2004 - 2007), Ir. Wasis Soesilo. MM dan penulis buku berjudul " Koes Plus Mencintai Nusantara Lewat Musik ".

HARAPAN PARA FANS KOES PLUS

TONY, guitaris band Pelestari " The Hit " (Bekasi) : Setelah Tuban, Malang dan Solo semoga bisa teralisasi museum Kus Bersaudara dan Koes Plus di Jakarta.  KUSMAYADI, S.PD, MM, Guru SMPN2 Jalaksana (Kuningan, Jabar) : Sangat menyambut baik dan gembira kehadiran museum Kus Bersaudara dan Koes Plus. Band ini adalah gerbang musik modern Indonesia, sangat legendaris dan " sesuatu banget " bagi musik pop Indonesia. Generasi sekarang sangat perlu mengenal mereka secara personal maupun group. Bagi kita yang sudah mengenalnya, kehadiran museum ini adalah wakil kehadiran Kus Bersaudara dan Koes Plus ditengah kita.

ARUDIN MUSA, B.Sc Wartawan Senior (Majalengka, Jabar) : Museum Kus Bersaudara dan Koes Plus dimanapun berada, itu bagus untuk mengangkat sejarah kejayaan musik Indonesia dimasa lalu agar bisa dikenang dan dicontoh oleh generasi muda berikutnya.

KHOLIQ, S.Pt, pemain band Pelestari (Sumedang) : Saya sangat menyambut baik didirikannya museum Kus Bersaudara dan Koes Plus. Ini sangatlah bagus, positip dan sebagai informasi untuk generasi baru.

NGAIDI, SH, MH, fans Koes Plus (Kudus) : Pendirian museum Kus Bersaudara dan Koes Plus adalah ide dan langkah yang cukup bagus. Namun juga perlu dipertimbangkan pembangunan museum dikota - kota lain di Indonesia yang memiliki fans club Koes Plus dengan jumlah anggota yang banyak agar generasi muda termotivasi atas kehadiran museum Koes. Kota Kudus juga diharapkan memiliki museum Koes seperti Tuban dan Malang serta Solo yang sedang dirintis.

PURWANTO YOHANES, fans Koes Plus (Purwokerto) : Keberadaan museum Koes Plus (Koes Bersaudara) bukan hanya sekedar untuk bernostalgia, tapi lebih pada sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi pecinta musik pop di negeri ini. Bahwa dari kelompok anak muda yang berjiwa seni telah lahir dari kota kecil Tuban group musik Kus Bersaudara yang melegenda. Kehadiran museum Koes Plus (Koes Bersaudara) yang dirintis di Solo jika sudah terpublikasi akan menimbulkan keinginan dari kota - kota lain untuk memiliki museum. Misal kota Kudus yang fans Koes Plus nya banyak juga Cilacap, Purwokerto dan Purbalingga.*

KOMENTAR DISQUS :

Top