Indonesia English
Sabtu, 17 November 2018 |
Advetorial

SIAPKAH WARGA MENYONGSONG HADIRNYA MEGA MALL DI KABUPATEN KUNINGAN

Minggu, 09 September 2018 22:33:35 wib - Komentar
LOKASI dipinggir jalan protokol Siliwangi ini akan dibangun Super Block dan mega mall.

Oleh : Seno Supono

ADA pemandangan yang kontras dan mengherankan setiap Sabtu senja di Jl. SIliwangi jalan protokol dikabupaten Kuningan, Jawa Barat berderet rapi ratusan sepeda motor bertengger dipinggir jalan. Semakin malam, jumlah motor yang terparkir akan bertambah banyak. Dijalan Siliwangi ini, bertengger pula kantor Kantor Bupati Kuningan.

Setelah penulis amati ternyata pemilik motor sengaja memarkir motornya, karena mereka ingin menikmati suasana malam minggu ditaman - taman maupun lokasi lain tak jauh dari jalan protokol tsb untuk nongkrong bersama.

Situasi ini mungkin bisa disimpulkan sebenarnya warga kota kurang atau hiburan.

Dikota ini jaringan Bioskop 21 belum masuk. Sementara untuk berbelanja di mall mereka harus ke Cirebon dengan jarak lebih 30 km.

Kondisi ini sepertinya sudah ditangkap Bupati Kuningan terpilih, H.Acep Purnama, SH, MH.

Dalam waktu dekat,  sudah ada investor yang akan membangun Super Block yang didalamnya terdapat mall berskala besar (mega mall) lokasinya dikawasan pusat kota tepatnya di Jl. Siliwangi disamping Bank Jabar.

Ditanah seluas 5 hektar, selain dibangun mega mall, juga dibangun kawasan bisnis modern, gedung bioskop, ragam kuliner dan wisata religi.

Menurut Bupati Kuningan, dalam pembangunan super block ini, pemkab tidak mengeluarkan biaya sepeserpun karena biaya  pembangunan seluruhnya ditanggung  investor.

Menurut bupati, justru pemkab diuntungkan karena kawasan kota akan lebih maju dan berkembang pesat. Pendapatan daerah akan meningkat dan terbukanya lapangan kerja bagi warga Kuningan.

Mega mall ini konsepnya berbeda dengan mega mall dikota - kota besar yang tanpa rasa ampun " menggilas "  pedagang kecil agar pergi lalu mati.

Mega mall ini justru tetap memelihara kearifan lokal dengan memberi kesempatan kepada pedagang kecil dan menengah untuk membuka lapak.

 

SIAPKAH WARGA DENGAN KEHADIRAN MEGA MALL ?

pertanyaannya siapkah warga Kuningan menerima kehadiran super block dengan mall raksasa ini?.

Seorang warga Kuningan, Wawan (50)  yang sering berbelanja ke mall di Cirebon memberikan pandangan sbb : Jika ukurannya kemampuan ekonomi, sepertinya kehadiran super block belum begitu mendesak. Mengingat daya beli masyarakat kuningan  belum tinggi. Sebut saja nilai Upah Minimum Kota/Kabupaten(UMK) hanya Rp. 1,6 juta saja. Bandingkan dengan Tangerang mencapai Rp.3,5 juta lebih , Bekasi Rp. 3, 8 juta dan yang lebih tinggi lagi Karawang mencapai 3,9 juta.

" Jangankan mall berskala besar, toserba yang agak modern di wilayah kecamatan Jalaksana juga tampak sepi ", tambah Wawan mengakhiri pandangannya.

Sebagai rujukan, tahun 2010 tingkat daya beli warga Kuningan hanya Rp. 549.000,- .Sementara angka pengangguran cukup tinggi 7,6 %.

Seperti dituturkan Ketua Fraksi PKS DPRD Kuningan Dede Sudrajat pada penulis Minggu (9/9/2018) bahwa Pemkab Kuningan belum berhasil menekan angka kemiskinan menjadi 10% seperti yang Eksekutif targetkan. " Angka kemiskinan masih berada di 13%  dari total jumlah penduduk yang 1, 2 juta lebih penduduk Kuningan ", tegas Dede yang juga sebagai Ketua Komisi IV.

Ia menambahkan " Konsen PKS saat ini adalah mengawal dengan ketat soal keberpihakan anggaran untuk kesejahteraan masyarakat. " Tidak bisa turunnya kemiskinan di angka 10% sesuai target pemkab, apakah ini karena kegagalan perencanaan, sudah kami tanyakan ke pihak Eksekutif saat  Laporan Pertanggungjawaban Bupati setiap 5 tahun sekali.

Lalu penulis bertanya, berapa jumlah anggaran yang digelontorkan untuk program pengentasan kemiskinan ?.

Dede menjawab " Kalau nominalnya ada di catatan. Tapi harus saya lihat dulu. Kalau saya sebut takut salah dan itu diambilkan dari anggaran APBD. Penggunaan dana APBD harus berpihak pada masyarakat  " ujar Dede Sudrajat.

KOMENTAR KETUA DPRD SOAL SUPER BLOCK

Ketua DPRD Kuningan Rana Suparman mempertanyakan,  dalam rencana pendirian super mall jika nantinya akan banyak yang tertindas maka jangan sampai membuat sistem yang berlebihan.

Harus dilihat siapa yang bakal dapat lebih banyak manfaatnya?

Kuningan itu kabupaten konservasi, kalau dibuka arus industrialisasi maka bisa hancur semua.

Pembangunan super block  itu akan menghimpit transaksi perniagaan masyarakat tradisional atau tidak ?. Kalau menghimpit, ya jangan memaksa, tandas Ketua DPRD Rana Suparman.

DEDE SUDRAJAT SUPER BLOCK MASIH POLEMIK

Rencana kehadiran super block di Kabupaten Kuningan, hingga saat ini menurut Ketua Fraksi PKS Dede Sudrajat masih menjadi polemik, utamanya soal perizinannya yang terkait dengan Rencana Detail Tata Ruang  (RDTR).

PKS  meminta agar prosesnya menempuh jalur yang benar. Namun secara pribadi, saya juga senang ada investor yang masuk ke Kuningan, dengan catatan tidak melanggar peraturan. Karena masuknya investor  bisa mengurangi angka pengangguran. "  Kami sedang mengkaji apakah masuknya investor itu melanggar tata ruang atau tidak. Semua masih dalam proses pengkajian dan belum tuntas " tutur Dede.

Penulis bertanya lagi, kenapa super block tidak dibangun dikawasan Cileuleuy demi penyebaran keramaian kota dan disini banyak lahan kosong serta akses jalan menuju Cirebon, Tasikmalaya dan Majalengka sudah tersedia ?.

Dede menjawab " Tidak boleh ada bangunan besar di wilayah Kuningan Barat karena disini merupakan daerah resapan air ". ungkapnya.

UPAYA PEMKAB HARUS DIAPRESIASI

Namun demikian upaya Pemkab Kuningan untuk menghadirkan super  block dengan mega mall  harus diberi apresiasi.

Tugas bupati adalah mengatur dan membuat peraturan agar kota lebih tertata dan masyarakatnya semakin sejahtera.

Pendirian super block yang tanpa dana sepeserpun dan tidak " menyandera " kantong APBD adalah langkah cerdas bupati Acep Purnama.

Langkah "paten" ini juga pernah dilakukan Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnana (BTP) saat membangun jalan sangat megah Simpang Susun Semanggi sepanjang 1, 6 km yang menghabiskan dana Rp. 345 miliar lebih tanpa membebani uang rakyat DKI.

Pembangunan jalan Simpang Susun Semanggi dibiayai oleh dana kompensasi atas kelebihan koefisiensi luas bangunan (KLB) dari PT.Mitra Panca Persada anak perusahaan asal Jepang Mori Building Company.

Dampak positip lainnya dengan kehadiran super block di Kabupaten Kuningan adalah menjadi salah satu indikator kemakmuran.

Beberapa tahun silam pemilik merk dagang Donut merk terkenal mencoba buka gerai di kota Kuningan namun tidak berjalan karena peminat sepi.

Kemudian beberapa tahun lalu, pemegang merk ayam cepat saji resep pak kolonel dari Amerika buka gerai di Jl. Siliwangi ternyata pasarnya sangat baik dan ramai terus sepanjang hari.

Semoga ini menjadi pertanda baik bahwa Kuningan kabupaten agraris ini juga bisa berdamai dengan bisnis masa depan di mall setelah industri pariwisata dan kuliner kini berkembang pesat di kabupaten yang berlambang kuda kecil tapi perkasa dan beken pula dengan ikon " peuyeum " atau tape ketan.##

KOMENTAR DISQUS :

Top