Indonesia English
Senin, 19 November 2018 |
Hukum dan Kriminal

Sri Mulyati Diancam Jadi Tersangka Dalam Sidang Genset RSUD Banten

Kamis, 08 November 2018 00:47:20 wib - Komentar
(foto : Banen88.com)

Serang, (Banten88.com): Banyak fakta yang terurai dalam sidang lanjutan pengadaan genset di RSUD Banten pada Tahun 2015. Dalam fakta kesaksian yanag dihadirkan semakin menemukan titik terang tentang siapa yg harus mempertanggungjawabkan adanya dugaan mark up seperti yg di dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Banten.

Dalam sidang lanjutan yang menghadirkan saksi Kabag Umum Sri Mulyati, PPTK Hartati Andarsih, PPTK Siti Maryam dan Iwan Ruspiandy sebagai pengusaha, seperti biasa sidang  dipimpin oleh Ketua Majlis Hakim Epiyanto dan dua hakim anggota Hosyana Sidabalok,  digelar pada Rabu, (7/11/2018), di ruang utama Cakara PN Tipikor Serang, dibuka sejak pukul 10.30 WIB.

Untuk mengurai peran masing-masing, dalam kesaksiannya, Jaksa meminta sesuai peran dan fungsinya untuk ketiga saksi yaitu Sri Mulyati yang menjabat sebagai koordinator PPTK  digabung dengan saksi Hartati Andarsih dan saksi Siti Maryam, keduanya sebagai PPTK pengadaan genset, sedangkan Iwan Ruspiandy dipisah dalam keterangan sendiri dan dikonfrontir dengan keterangan Sri Mulyati dan Hartati Andarsih yang memiliki keterkaitan antara peran Iwan, Sri dan Hartati.

Sri Mulyati koordinator PPTK yanag dkenal sebagai orang yang memiliki pengaruh dan peran besar di RSUD Banten menyampaikan, bahwa tugpoksinya sebagai koordinator sudah dilakukana sebagaimana mestinya, sedangkan tekhnis pengadaan genset merupakan tugas dan kewenangan PPTK yang membidani mulai melakukan survey, menyusun HPS dan KAK serta menyiapkan kelengkapan dokumen lelang.

“Saya tidak tahu apakah tim survey sudah melakukan survey genset dan mengestimasi harganya, tapi pada saat rapat pimpinan PPTK menyampaikan katanya sudah melakukan survey,” ujar Sri Mulyati.

Keterangan Sri Mulyati dibantah oleh Hartati, bahwa apa yang dia kerjakan atas perintah Sri Mulyati dan melaporkan apa yang sudah dikerjakan kepadanya selaku atasannya langsung. “Saya survey diajak Adit, dan atas perintah atasan saya, ga bener kalau saya tidak melapor kepada ibu, bawha saya tidak mengetahui persis pelaksanaan pengadaan genset karena ibu yang selalu berhubungan dengan Adit,” sanggah Hartati.    

Ketika ditanya mengenai adanya SK Tim survey yang diterbitkan Direktur RSUD Banten, ketiganya saling tuding, bahkan tampak terlihat antara Hartati dan Sri Mulyati saling sikut untuk menyembuyikan perannya masing-masing. "Saya survey ikut apa kata Adit, karena saya tidak mengerti dan masih belajar bagaimana melakukan survey genset," kata Hartati melempar tanggungjawabnya sebagai PPTK.

Adanya Surat Perintah Tugas (SPT) dari Wadir Umum, Akhrul Aprianto kepada Hartati, Adit dan Yogi, dan apakah hasil survey tersebut dilaporkan kepada Sri Mulyati sebagai koordinator PPTK, dengan gugup Hartati menyampaikan bahwa semua yang dikerjakan atas perintah Sri Mulyati. "Saya sudah laporkan bahwa ketika survey hanya kepada satu tempat, atas saran bu sri cukup, ya sudah kita ga survey lagi," ujarnya.

Keterangan Hartati yang menyerangnya, tentu saja membuat Sri Mulyati geram, dia membantah keterangan Hartati, menurutnya bahwa penyusunan KAK, HPS adalah kewenangan Hartati sebagai PPTK-nya. Karena PPTK harus bertanggungjawab terhadap hasil survey dan proses lelang. "Aturannya seperti itu, bahwa yang memiliki kewenangan adalah PPTK, terlepas siapa yang membuat, tapi ini aturannya harus seperti itu," bantahhnya.

Bukan hanya dengan Sri Mulyati, dalam memberikan keterangannya Hartati juga nampak saling sikut dengan Siti Maryam, pejabat PPTK yang menggantikannya. Menurut Hartati bahwa yang menyiapkan dokumen selain Adit juga Maryam. Namun keterangan Hartati dibantah oleh Siti Maryam, karena pada saat pekerjaan genset berjalan dia hanya sebagai staf yang membantuk tugas PPTK.

“Tidak benar, saya hanya menyiapkan apa yang diminta oleh ibu Sri dan bu Tati, saya tidak memiliki kewenangan apapun, karena ketika saya ditunjuk menjadi PPTK pun saya sempat menolaknya,” tukasnya.

Yang menarik, pada saat kesaksian Iwan Ruspiandy, ketika Dadang Handayani penasehat hukum Adit Hirda Restian dan Endi Suhendi menanyakan RAB yang membuat adalah Iwan atas permintaan Sri Mulyati, Iwan tidak menolak. Menurutnya, bahwa permintaan agar RAB dibuatkan, pada saat dia mengerjakan rumah genset, saat itu Sri Mulyati memintanya untuk dibuatkan RAB genset.

“Ya saya buatkan, dan saya berikan soft copynya kepada ibu Sri, dana bu Sri juga meminta agar dikirim ke email Adit, harapan saya dengan membuatkan RAB saya akan mendapat pekerjaan genset, namun saya gaga mengikuti lelang,” katanya.

Dalam pembuatan RAB lanjut Iwan, dia menaikan harga genset dari harga pasaran, dimana tujuannya jika dia yanag mendapatkan pekerjaan pengadaan genset tersebut agar dia memperoleh keuntungan besar.”Ya saya naikan harganya, kalau harga pasaran genset merk pernis 900 jutaan, saya buat diatas 1 miliar lebih,” terangnya.

Sebagai konpensasi tidak mendapatkan pekerjaan genset, Iwan diberikan 5 paket pekerjaan penunjukan langsung oleh Sri Mulyati. “Ya benar saya memperoleh lima paket kerjaan dibawah 200 juta,” katanya.

Ketua Majlis hakim Epiyanato, yang memimpin sidang dengan lugas mengingatkan Sri Mulyati agar mau jujur menyampaikan keterangan yang sebenarnya. Namun peringatan keras Epiyanto, ternyata tidak membuat Sri takut. “Saudara mau tiap hari saya suruh datang kesini, atau ibu mau saya jadikan tersangka selanjutnya, jangan salah KPK saja dapat menjadikan putusan kita untuk mentersangkakan pihak lain, ibu mau menjadi terdakwa seperti ketiga orang ini,” ancam Epi.

Dadang Handayani dan Pepen Peni Yuda, penasehat hukum Adit dana Endi mengatakan, bahwa kesaksian sidang hari ini, meski semua membantah dana menutupi peran masing-masing, namun didapat fakta-fakta yang menarik.”Sudah mulai tersibak kan siapa yang berperan dan harus mempertanaggungjawabkan perbuatannya, ini fakta ya bukan rekayasa seperti yang anda liat tadi,” tegas Dadang.

Dikatakan Dadang, meski saling tuding mengenai siapa yang harus bertanggungjawab, dapat terlihat pada keterangan Iwan yanag dikonfrontir dengan saksi Sri Mulyati, kebohongan dan rekayasa dari kasus ini sudah semakin nampak jelas, dan kedua terdakwa ini hanya bagian dari orang yang dikorbankan saja. “Sudah lah, kita sudah mengerti, majlis juga memahami, mana bisa melepas tanggungjawab sedanagkan itu menjadi tanggungjawabnya,” tandasnya. (azmi)

KOMENTAR DISQUS :

Top