Indonesia English
Rabu, 08 Februari 2023 |
Pendidikan

Strategi Pendekatan Pendidikan Karakter di TKS Permata Bunda

Selasa, 17 Januari 2023 15:08:39 wib - Komentar
Strategi Pendekatan Pendidikan Karakter di TKS Permata Bunda

Serang, (Banten88.com),-Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan.  Untuk memenuhi sumber daya tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yang  menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pengembangan kemampuan dan pembentukan karakter tentunya dimulai sedini mungkin karena anak-anak merupakan sumber aset bangsa, ditangan mereka kelak roda negara kita dijalankan. Apalagi di era modern ini, krisis moral terjadi dimana-mana. Demikian dikatakan Guru TKS Permata Bunda kecamatan Cikande, Sri Mulyani, S.Pd kepada wartawan, Selasa (17/1/2023)

Guna meminimalisir ataupun menanggulangiterjadinya krisis moral tersebut perlu dikembangkan pembelajaran berbasis karakter sedini mungkin di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini. Pendidikan Anak Usia Dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Permendikbud Nomor 146, 2014). Hal ini sangatlah pas karena usia dini merupakan masa emas perkembangan (golden age), pada masa itu terjadi lonjakan luar biasa pada perkembangan anak yang tidak terjadi pada periode berikutnya, dimana rangsangan pendidikan dapat dilakukan sejak lahir, bahkan sejak anak masih dalam kandungan.

            Pembentukan karakter yang tertanam sejak usia dini diharapkan mereka kelak nantinya menjadi pribadi yang berakhlak mulia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadi pribadi yang mampu bersaing sebagai sumber daya manusia yang memadai dalam mendukung pembangunan Nasional di era modern ini.

     Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action), tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggung jawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

TKS Permata Bunda merupakan lembaga layanan PAUD, selain mengembangkan enam aspek perkembangan anak usia dini (nilai-nilai agama dan moral, sikap social emosional, fisik motorik, kognitif, Bahasa dan seni) juga mengembangkan pendidikan karakter sesuai dengan sembilan pilar karakter. TKS Permata Bunda dalam mngembangkan pilar karakter menggunakan strategi pendekatan pendidikan karakter secara komprehensif. Strategi yang berorientasi pada pendekatan komprehensif merupakan strategi yang mementingkan keseimbangan moral knowing, moral feeling dan moral action, yang dimaksud bahwa dalam mengembangkan karakter, komponen-kompnen karakter tersebut perlu dikembangkan bersama-sama (tidak boleh satu-satu), misal hanya moral knowing saja.

Sebagai contoh dalam mengembangkan pilar karakter jiwa dermawan anak, cinta kasih  dan kepedulian social dengan  strategi pendekatan secara komprehensif sebagai berikut:

Moral Knowing (konsep pengetahuan), guru menjelaskan definisi sikap karakter tertentu. Ketika guru sedang menjelaskan dengan alat peraga anak diminta mendengarkan dan lebih banyak bertanya tentang alat peraga tersebut. Selanjutnya dilakukan tanya jawab atau diskusi, untuk melihat sejauh mana pemahaman anak tentang konsep karakter tersebut. Contoh, Karakter jiwa dermawan dan cinta kasih terhadap sesama, guru menjelaskan definisi sikap jiwa dermawan/anak dermawan, yaitu sikap/perbuatan anak yang suka memberi dan berbagi dengan sesame, tanpa mengharapkan balasan (pamrih), suka memberikan sedekah/infak, anak yang suka menolong orang miskin atau orang  yang sedang susah dan juga menjelaskan definisi cinta kasih terhadap sesama dan kepedulian. Ketika guru sedang menjelaskan dengan alat peraga anak diminta mendengarkan dan lebih banyak bertanya tentang alat peraga tersebut. Selanjutnya dilakukan tanya jawab atau diskusi, untuk melihat sejauh mana pemahaman anak tentang konsep jiwa dermawan, cita kasih terhadap sesame dan kepedulian.

            Moral Feeling (konsep perasaan), guru menanyakan kepada anak tentang karakter tertentu yang pernah ia lakukan, sesekali guru bercerita tentang anak yang bersikap sesuai karakter tertentu tersebut, guru menanyakan tentang gambar dalam buku cerita, setelah selesai bercerita dilakukan tanya jawab, digunakan untuk memotivasi anak untuk bersikap sesuai karakter tersebut. Contoh karakter jiwa dermawan anak, cinta kasih terhadap sesame dan kepedulian, guru menanyakan kepada anak tentang perilaku jiwa dermawan, perilaku cinta kasih terhadap sesame dan kepedulian yang pernah ia lakukan, sesekali guru bercerita tentang anak yang bersikap dermawan, anak yang memiliki rasa empati/cinta kasih terhadap sesama , guru menanyakan tentang gambar dalam buku cerita, setelah selesai bercerita dilakukan tanya jawab, digunakan untuk memotivasi anak untuk bersikap dermawan, dan memiliki sikap kepedulian terhadap sesama.

            Moral action (tindakan riil), Guru mengajak anak untuk menyisihkan uang jajannya dan ditabung setiap hari Jum’at (saat pembelajaran sentra ibadah) dalam celengan. Diberikan penjelasan bahwa celengan setelah terkumpul banyak nantinya akan digunakan untuk membantu anak yatim an dhuafa di lingkungan sekolah dan sekitarnya. Selain kegiatan menabung untuk kaum dhuafa dan yatim juga kegiatan piring berbagi ketika makan bekal bersama, anak-anak boleh berbagi bekal di piring dan anak yang tidak membawa bekal bisa makan bekal dari piring berbagi tersebut. Setelah selesai dilakukan kegiatan menabung bersama dilakukan diskusi bagaimana perasaan anak setelah melakukan kegiatan dermawan, cinta kasih dan kepedulian social.

            Strategi pendekatan pendidikan karakter secara komprehensif dengan keseimbangan ketiga moral  (moral knowing/konsep pengetahuan), moral feeling konsep perasaan ) dan moral action (tindakan riil) yang dilakukan seimbang secara bersama-sama akan memberikan pengaruh yang lebih dalam dalam pembentukan karakter karena anak melakukan praktik langsung, melakukan tindanyakan nyata  didukung oleh pengetahuan dan perasaannya sehingga akan lebih membekas tertanam dalam benak sanubarinya.

Penulis  Sri Mulyani

TKS Permata Bunda kecamatan Cikande kabupaten Serang

 

KOMENTAR DISQUS :

Top