Indonesia English
Senin, 23 Juli 2018 |
Seputar Banten

Sulistiyanto Digerogoti Diabetes Nyaris Putus Asa

Senin, 01 Januari 2018 15:31:12 wib - Komentar
H. Sulistiyanto Putro (kiri) bersama para sahabatnya.

Tangerang, (Banten88.com): SULISTIYANTO PUTRO (58) warga Jl. Rasuna Said, Pekojan Cipete, Kota Tangerang sejak tahun 2000 menderita penyakit diabetes akut. Paru - parunya bolong akibat  ganasnya serangan Diabetes. "Jangankan membawa badan, bernafas saja seluruh badan sakit," kisahnya kepada media cyber banten88.com Senin (1/1/2018).

Meski Sulis, demikian ia disapa akrab terkena diabetes kering (kategori 2) namun penderitaannya bukan main dahsyatnya. Paru-paru bolong menjadi kantong darah dan nanah. "Badan saya yang semula beratnya 85 kg, akhirnya menyusut kurang dari setengah. Saya sudah seperti mayat hidup. Karena pandangan mata kabur, saya sudah sulit mengenal orang. Tapi boro-boro mengenal orang, wong bernafas saja seluruh persendian badan sakit," tuturnya.

Ia kisahkan lagi, setiap hari paru-parunya yang bolong itu mengeluarkan darah dan nanah berliter-liter. Biaya berobat jangan ditanya, paparnya lagi. Rumah yang ia miliki di Ciledug sudah dijual. Biaya pengobatan sudah habis ratusan juta rupiah, tapi tetap tidak sembuh. Sulis akhirnya pindah kerumah lebih sederhana dikawasan Pekojan, Cipete Kota Tangerang.

Dirumah kecil itu ia merenung. "Untuk biaya berobat, apakah ini rumah satu - satunya yang masih tersisa harus saya jual agar saya bisa sehat. Tapi kalau saya sehat dan tidak punya rumah kasihan anak isteri saya," urai Sulis membeberkan episode pahit kehidupannya. "Atau kalau saya mati, betapa kasihan anak-anak dan isteri saya," ungkapnya.

Disitulah ditengah keputusasaan lahir yang namanya pasrah kepada Allah SWT. Ia tidak mau lagi memikirkan hal-hal yang memusingkan dan juga tidak berobat. Hanya pasrah dan pasrah. "Kalau sang Pencipta mau mengambil nyawa saya, monggo saya sudah pasrah," ujar ayah 5 putra putri ini.

SENI MEMINUM AIR SENI SEBAGAI OBAT MUJARAB. Ditengah kepasrahannya, datang seseorang yang biasa disebut "orang pintar". Orang pintar itu menyarankan jika mau sembuh, minum saja air seni sendiri setiap bangun pagi. Kontan saja Sulis terperanjat karena membayangkan jijiknya.

Namun ia sudah tidak punya daya upaya lainnya. Uang berobat sudah tak sanggup dicari. Maka dengan berat hati solusi extrem itu ia jalani. Awalnya muntah tapi ia tak kurang akal, air seni sendiri yang  menyengat itu ia beri campuran guna mengurangi bau. Setiap bangun ia buang sedikit air seni awal kemudian sisanya dimasukan ke satu wadah langsung minum. Selalu begitu selama 2 tahun dan stop berobat. "Obat diabetesnya yang sudah parah itu ya hanya air seni sendiri," kisahnya.

Keajaiban muncul setelah 2 tahun meminum air seni sendiri, semua luka didalam tubuh kering, ia merasa badan nyaman. Itu terjadi awal tahun 2007. Ia yang dikira rekan - rekannya sudah mati. Mereka semua terperanjat melihat Sulis yang mulai bugar. Kini ia terus bersyukur kepada Allah SWT atas karunia kesehatan yang diberikan kepadanya. Kini ia bebas menyantap makanan apa saja. Dari jerohan hingga sandung lamur bahkan sate berlemak sekalipun. "Kini saya bebas makan apa saja dan tidak merasa takut. Makan nasi porsi besar pun tidak masalah. Sejak sembuh tahun 2007, hingga sekarang tidak pernah berobat lagi," ungkapnya.

Selang beberapa saat setelah sembuh total, ia menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci Mekah. Dan pada tanggal 30 Desember 2018 mendatang ia dan isteri serta keluarga lainnya, berangkat lagi ke Tanah Suci  untuk menunaikan Ibadah Umroh.

Namun dibalik cobaan dahsyat yang menimpa Sulis, ada wanita hebat mental baja  yang sangat setia mendampingi dikala suka dan juga derita. Dia adalah Hj. Dalilah, putri Betawi yang memberikan spirit hidup untuk H. Sulistiyanto Putro yang asli Jawa Timur ini. Meski Sulis pendidikan formalnya drop out S.1 namun ia memiliki jiwa kepemimpinan yang mumpuni. Banyak anak buahnya yang jadi pekerja media, lawyer atau pengusaha yang setelah ia tolong kini mereka bisa mandiri.

"Saya bangga terhadap pencapaian mereka karena sudah benar - benar mandiri," demikian H. Sulistiyanto Putro. (SS)

KOMENTAR DISQUS :

Top