Indonesia English
Selasa, 20 Oktober 2020 |
Peristiwa

SUSTER DI BAGIAN HEMODIALISIS RS CIGUGUR KUNINGAN MELAYANI DENGAN SEPENUH HATI

Kamis, 30 Januari 2020 13:39:14 wib - Komentar

CIREBON, (Banten88.com): SAYA sejak sekolah di SMAK Salatiga (Jateng)  tahun 1976 memang bercita - cita menjadi seorang Jurnalis. Kala itu SMAK dikota saya Salatiga termasuk sekolah swasta top dan berdiri sejak tahun 1950.

Ketertarikan saya terhadap dunia jurnalistik, diawali dari berita - berita band legendaris KOES PLUS, band kegemaran saya yang sering diulas oleh jurnalis kompas antara lain Efex Muyadi,Theo dan Agus.

Keluarga kami berlangganan koran Kompas yang datang setiap sore hari. Setelah ayah dan ibu selesai membaca koran, tiba giliran kami putra putrinya membaca. Tentu halaman musik yang saya baca terlebih dahulu. Yang saya ingat antara lain, saya pernah membaca ulasan tentang album Pop Melayu Koes Plus,  album Koes Plus 78 yang kuat warna musik ala Beatles dan kisah perjalanan musik Koes Plus yang diluncurkan dalam album History of Koes Brothers.

Setelah membaca ulasan musik di Harian Kompas, itulah awal ketertarikan saya didunia jurnalistik.

Setelah menamatkan kuliah di Akademi Administrasi Negara (AAN) Angkasa Bandung tahun 1985, saya bekerja sebagai Reporter Mingguan SENTANA di Bandung kurang lebih 10 tahun. Karena pimpinan meniai kinerja saya cukup baik saya alih tugas ke Jakarta dipromosikan sebagai Redaktur Pelaksana koran Sentana merangkap meliput bidang Pemerintahan, Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi. Sebagai wartawan pariwisata, atas undangan mitra kerja saya nyaris sudah mencicipi seluruh kuliner hotel besar yang bertebaran sepanjang jalan Sudirman dan MH. Thamrin, Jakarta Pusat.

Tentu kegemaran saya dibidang musik terus saya asah dengan menulis profil musisi Koes Plus seperti mas Tonny Koeswoyo, Mas Yon Koeswoyo, Mas Yok Koeswoyo dan mas Nomo Koeswoyo dari band No Koes. Juga Bang Jelly Tobing top Drumer Superkid, Bang Benny Panjaitan leader Panbers, Bang Reynold Panggabean Drumer The Mercys, Usman Bersaudara, Iin Parlina Bimbo hingga Titik Hamzah.

TAK SADAR MENUMPUK GULA DARAH

Sebagai Redaktur Pelaksana sekitar 5 tahun saya bekerja mulai pukul 17.00 dan pulang jam 01 dinihari. Kantor dikawasan industri Pulogadung, Jakarta Timur dan rumah di Bekasi. Suatu saat pulang bekerja dikawasan Margahayu Bekasi, saya melihat ada warung yang dikerumuni pembeli. Saya tentu penasaran, gerangan apa yang dijualnya. Oh ternyata ibu - ibu paruh baya sedang menjajakan nasi uduk gurih nan lezat dengan aneka lauk pauk.

Sejak terpikat pada bungkusan pertama, saya langsung jadi  pasien aktif  warung tsb dan " tersandera " selama tahunan. Setiap jam 01 dinihari sepulang kerja selalu menyantap nasi uduk kemudian tidur amat nyenyak didepan layar televisi. Tapi tak saya sadari saya telah menimbun gula untuk badan saya sendiri.

BERTEMU DOKTER ANDREAS SIGIT LADRANG

Diulang tahun saya ke 60 pada 1 Januari 2020 seperti lyrik lagu Koes Bersaudara 77 bahwa bagi saya dunia telah betul mati. Indikasiya ketika saya bernyanyi dan memainkan guitar listrik, beryanyi 3 lagu badan terasa lelah luar biasa. Apa yang terjadi pada diri saya. Kemudian sebagai bikers route Bekasi, Cirebon, Bandung adalah route yang sering saya lalui. Tapi anehnya saya coba naik motor sekitar 5 menit, tiba tiba badan mulai sempoyongan tenaga habis dan didera lelah luar biasa. Saya menduga saya sakit mag kronis.

Akhirnya saya kunjungi dokter terkenal yang jadi buah bibir masyarakat, dokter legendaris pakar penyakit dalam dari RS.Sekar Kamulyan, Cigugur, Kuningan, Jabar. Dia  adalah dokter Andreas Sigit Ladrang. Pembawaannya slow tapi orangnya tegas, bicara apa adanya tanpa tedeng aleng - aleng jika pertama kali dengar kata - katanya, pasien bisa kaget. Kepada saya dokter Sigit setelah membaca hasil test darah di laboratorium,

tegas mengatakan " Ginjal anda sudah rusak harus cuci darah !,"  ungkap dokter legendaris ini dengan wajah serius.

Namun mendengar penegasan sang pakar penyakit dalam ini, badan saya terasa ditimpa kontainer dan saya seperti lagu Ebiet G.Ade sebenarnya " Telah mati didalam hidup ".

SUSTER SANG PEMBAWA TERANG

Cuci Darah adalah dua kata yang terdengar sangat horor ditelinga saya. Namun harus saya akui, dokter Sigit adalah motivator hidup saya. Ucapannya yang tegas tanpa tedeng aleng aleng kadang - kadang serasa menikam tapi ternyata itu ucapan yang benar 100%.

Kesan saya dokter Sigit itu selain ahli penyakit dalam juga punya indra ke 6. Analisanya selalu tepat. Kepada beliau saya akhirnya minta maaf karena sikap saya yang semi ngeyel tak mau cuci darah.

HEMODIAILISIS

Akhirya saya menjadi pasien HD atau Hemodialisis melakukan cuci darah setiap Selasa dan Jumat.Itulah awal pertemuan saya dengan suster - suster yang menerangi hidup ini dengan penuh kesabaran, cinta kasih, ketelitian, pegharapan tanpa membedakan apa suku dan agama kita. Semua pasien dilayani penuh kasih yang tanpa batas. Disana ada Suster Gabriela, Suster Myrna, Suster Esther, Suster Nenny, serta suster penuh atensi saya lupa namanya putri seorang pendidik yang suamiya membuka toko plastik dan alat pancing di pertokoan Kuningan dan seorang perawat pria yang masih muda. Semua suster dan perawat dibagian HD dibawah pimpinan Dokter Boby, perangainya sangat ramah, profesional, sabar dan teliti dalam melayani. Kami dalam waktu singkat serasa menemukan rumah baru, lingkungan baru yang harmonis dan gemah ripah, repeh dan rapih. Ruangan Hemodialisis juga terasa sehat, segar dan nyaman dilayani suster - suster terampil dalam suasana penuh kekeluargaan dan full cinta kasih.

Setiap berkunjung ke bagian Hemodialisis kami merasa nyaman disana. Proses cuci darah 5 jam kami jalani dengan penuh pengharapan dan nyaris tanpa beban. Kalau boleh kami katakan, para Suster dan perawat pria yang terampil, rendah hati dan penuh senyum itu adalah bagian dari jiwa kami termasuk kang office boy.

Sesuai kredo Rumah Sakit Sekar Kamulyan yakni " Pancen Welas Asih " yang artinya Memang Penuh Limpahan Kasih Sayang.

Lokasi ruangan Hemodialisis sangat strategis karena berada di ketinggian sehingga kita bisa melihat pemandangan indah sudut Kota Kuningan.

SEGAR KEMBALI

Faktanya setelah cuci darah seperti anjuran dokter legendaris dokter Andreas  Sigit Ladrang, badan terasa sehat kembali. Dengan asupan protein yang baik, tentu badan akan semakin fit. Cuci darah bukan menuju hari kiamat tapi memperpanjang nafas hidup. Karena jika kita sadari betapa berartinya hidup ini detik demi detik. (Oleh Seno Supono, Jurnalis Senior Media Cyber Banten88.com)

KOMENTAR DISQUS :

Top