Indonesia English
Senin, 23 April 2018 |
Nasional - Politik

Tiga Parpol Tarik Dukungan, Irna Ditinggal PPP Sakitnya Tuh Disini…

Senin, 27 Juli 2015 20:06:46 wib - Komentar
Irna Narulita.

Pandeglang, (Banten88.com) – Hajat Pilkada ternyata tidak mampu mempersatukan dua kubu di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Baik kubu Romahurmuziy maupun Djan Faridz sepertinya kedua gajah itu tidak membuka ruang islah untuk  duduk bersama memberikan restu kepada calon kepala daerah yang sudah lama menantinya.

"Sepertinya semakin sulit untuk ketemu, kita tidak pernah duduk bersama dengan kubu Romi," kata Waketum PPP kubu Djan, Fernita Darwis saat dihubungi, Senin (27/7).

Warning KPU dalam aturannya mewajibkan dua kubu partai politik yang bersengketa sepakat mengajukan calon yang sama di suatu daerah. Ternytata bagi PPP sulit untuk mewujudkannya, menurut Fernita bahwa di PPP, kandidat kepala daerah lah yang harus mengeluarkan usaha ekstra untuk mendapatkan persetujuan dua kubu.

"Keuputusan itu bukan berdasarkan keputusan bersama, bisa jadi ada calon yang urus ke Romi, lalu keluar surat juga. Kalau ada yang sama, itu bukan hasil duduk bersama. Itu upaya kandidat atau kader yang mengurusnya," katanya.

Dikatakan Fernita, bahwa itu adalah risiko para kandidat dari PPP yang ingin maju Pilkada. Ada yang akhirnya kandas, ada pula yang tetap bisa mencalonkan diri sebagai Pilkada namun PPP tidak tercantum sebagai partai pengusung. Salah satunya adalah calon Bupati Pandeglang Irna Narulita. Irna adalah anggota DPR F-PPP yang sudah mundur untuk berlaga di Pilkada. Namun, istri Sekjen PPP kubu Djan, Dimyati Natakusumah itu tidak mengantongi restu Romi.

"Bu Irna itu kader murni PPP, pengurus kita, anggota DPT fraksi PPP.  Ternyata Romi tidak memberi, rekomendasi, akhirnya rekomendasi kita tidak bisa dipakai. Tapi dia sudah punya dukungan melebihi syarat jadi tetap maju tanpa PPP," jelasnya.

Menurut Fernita, ada pula calon kepala daerah lain yang berhasil mengantongi rekomendasi dari dua kubu, salah satunya calon wali kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany. Itu pun merupakan usaha Airin pribadi. "Untuk Airin pollingnya bagus. Jadi kita dukung. Romi kayanya dukung juga. Itu upayanya Airin, sekali lagi bukan karena duduk bersama," tukasnya.

Ketua Umum DPP PPP Romahurmuzy mengatakan, kubunya sudah melakukan pendaftaran calon kepala daerah tanpa melibatkan PPP kubu Muktamar Jakarta yang dipimpin Djan Faridz. Dia menyiapkan sendiri calon-calon yang didaftarkan ke KPU. "Kita sendiri tidak bersama kubu PPP yang lain. Kami tetap berpegangan pada putusan PT-TUN dimana yang memenangkan kepengurusan hasil Muktamar Surabaya," ujarnya.

Dengan tidak mendapat dukungan Partai berlambang Ka’bah ini, yang sebelumnya Irna mengklaim sudah memiliki dukungan 11 Parpol harus rela ditinggal rumahnya sendiri, karena PPP mengusung kandidat lain, bukan Irna. Selain PPP, menyusul PDI-Perjuangan dan Partai Demokrat menarik dukungannya terhadap pasangan Irna-Tanto.

Kubu Romi atau PPP versi muktamar Surabaya, secara resmi mengeluarkan rekomendasi kepada Ratu Siti Romlah, yang merupakan kader Partai Demokrat. Rekomendasi yang diberikan kepada Siti Romlah ini disampaikan saat acara deklarasi pasangan Ratu Siti Romlah-Yan Riadi sebagai balon Bupati dan Wakil Bupati Pandeglang, di Villa Nyimas Ropok, Pandeglang, Minggu (26/7).

Pengurus DPP Partai Demokrat, Nurul Qomar yang hadir dalam deklarasi tersebut kepada wartawan menyampaikan. Dari hasil lobi timnya, PPP tidak memberikan rekomendasi terhadap Irna, namun rekomendasi itu diputuskan untuk Siti Romlah. Sedangkan rekomendasi Demokrat, semuanya sudah selesai dan sudah ditandatangani SBY.

”Sudah, sudah saya terima SK-nya, Keputusan DPP Partai Demokrat Nomor 138 telah ditandatangani pak SBY sebagai Ketua Umum saya terima langsung, hari ini sudah diserahkan kepada Ketua DPC Pandeglang,” katanya.

Nurul Qomar atau lebih populis dengan pelawak Komar empat sekawan bersama Deri dan Eman ternyata didaulat menjadi tim sukses Siti Romlah. Menurutnya, dalam menentukan pilihannya Demokrat telah memilih kader terbaiknya untuk di Pilkada Pandeglang. “Itu restu Pak SBY langsung loh, jangan main-main,” canda Komar sedikit mem-banyol.

Dengan mimik serius, Komar yang mengaku kelahiran Ciekek, Pandeglang dengan bahasa politis menyampaikan terima kasih kepada PDI-Perjuangan telah memberikan kepercayaan kepada Siti Romlah untuk maju di Pilkada.”Tentu untuk PPP, PDIP dan PKPI yang telah sama-sama memberikan rekomendasi kepada Bunda Ratu Umira akan semakin memantapkan langkah pasangan ini untuk meraih kemenangan,” tukasnya.

Acara deklarasi pasangan Siti Romlah-Yan Riadi ini dihadiri bebotoh moncong putih dr Ribka Tjiptaning. Dia hadir mewakili pengurus DPP PDIP dan Ketum Megawati Soekarnoputri. “Kalau sudah mendapat restu PDIP jangan takut, harus pantang mundur, tidak perlu cemas dengan lawan yang diusung banyak partai, kita harus yakin dapat memenangkannya,” ujarnya semangat.

Dikatakan Ning, sapaan akrab Ribka Tjiptaning, dia meng-ultimatum jika ada kader PDI-Perjuangan yang berani bermain di dua kaki maka partai tidak akan segan-segan untuk menjatuhkan sanksi. “Kita konsisten, PDIP tidak akan pernah main-main bagi kader yang tidak mengikuti garis partai sanksinya bisa sampai kepada pemecatan,” tandasnya.

Ketua DPC Partai Demokrat Pandeglang, Yoyon Sujana yang hadir dalam acara deklarasi Irna-Tanto mengaku kehadirannya hanya sebatas undangan. “Kini setelah saya melihat langsung bukti rekomendasi asli dari DPP, maka tidak ada kata lain selain memenangkan dan mengantarkan kader terbaik partai menjadi Bupati Pandeglang,” katanya.

Batalnya PPP memberikan rekomendasi kepada Irna yang merupakan kadernya sendiri, membuat sebagian tim sukses Irna-Tanto geleng-geleng kepala. Mereka menganggap, Irna dihianati dan ditinggalkan oleh rumahnya sendiri. “Kalau partai lain masih kita pahami, ini ditinggal PPP, sakitnya tuh disini,” ujar Dede salah satu pendukung Irna.

Sementara dualisme PPP ditingkat atas kondisinya semakin meruncing. Kedua kubu sama-sama mempertahankan egonya, kata 'islah' tampaknya belum ada dalam benak dua kubu Partai Ka’bah ini yang masih berseteru hingga menjelang detik-detik pendaftaran. Pilkada serentak bahkan tidak dapat mempersatukan partai sejuta umat ini meski hanya sementara.

Berbeda dengan Partai Golkar yang juga bersengketa menupayakan jalan damai, meski hanya  islah terbatas demi Pilkada, PPP masih emoh untuk duduk bersama. Baik kubu Muktamar Surabaya yang dipimpin oleh Romahurmuziy (Romi) maupun kubu Muktamar Jakarta yang dikawal Djan Faridz masih memilih jalan sendiri-sendiri bersama kubunya.

Romi sudah melakukan uji kelayakan secara sepihak terhadap calon-calon kepala daerah dari PPP. Kubu Djan Faridz tidak dilibatkan. Bila ada persamaan antara dua kubu di PPP, itu adalah sama-sama memilih jalan sendiri. Kubu Djan Faridz pun tidak pernah berembuk dengan Romi terkait urusan Pilkada untuk meng-akomodir kadernya di daerah.

Meski Wapres Jusuf Kalla menawarkan untuk menjadi fasilitator islah terbatas seperti yang dilakukan Golkar, namun sepertinya kedua kubu tidak bergeming untuk memilih jalan damai, padahal partai tersebut berbasis Islam. Baik PPP versi Romi maupun PPP versi Djan, keduanya tidak menginginkan dilakukan upaya islah.

Mendagri Tjahjo Kumolo sebagai perwakilan pemerintah pun mengaku tak bisa berbuat banyak bila ada partai yang masih berkonflik dan belum menemukan kata sepakat. "Mengenai parpol yang belum islah, masih ada satu parpol, dan saya tidak ingin komentar jauh tentang kisruh itu," ujar Tjahjo di Kemang, Jakarta Selatan, Senin (27/7) siang tadi. (Dang).

KOMENTAR DISQUS :

Top