Indonesia English
Rabu, 10 Agustus 2022 |
Hukum dan Kriminal

Vonis Dana Hibah, Suhari Minta Keadilan Jaksa Seret Oknum Biro Kesra

Rabu, 19 April 2017 13:31:53 wib - Komentar
Suasana sidang lanjutan dugaan tindak pidana korupsi dana hibah tahun 2013 senilai Rp. 1,1 miliar. di Pengadilan Negri Serang, Jl. Raya Serang-Pandeglang, Kab. Serang, Banten, Selasa (18/4).

SERANG, (Banten88.com): Di vonis bersalah telah memperkaya orang lain, terdakwa penerima dana hibah, Ketua Yayasan Al-Ishlah Ahmad Suhari dijatuhi hukuman dengan pidana pokok 2 tahun enam bulan subsider Rp 100 juta atau denda satu bulan lima belas hari kurungan ditambah denda Rp 660 juta atau kurungan 6 bulan penjara.

“Perbuatan terdakwa telah melakukan penyalahgunaan wewenang dan memperkaya orang lain dan menjatuhkan pidana kurungan kepadanya,” kata Ketua Majelis hakim Tipikor  Sumantono, saat membacakan putusan terhadap terdakwa Ahmad Suhari di Pengadilan Negeri Serang, (18/4/2017).

Dalam amarnya majelis berpendapat, sesuai bukti baik dari keterangan saksi dan fakta persidangan, terdakwa tidak terbukti memperkaya diri sendiri. Perbuatan terdakwa dilakukan karena ada komitmen sebelumnya dengan Biro Kesra Provinsi Banten mengenai penerimaan dana hibah dengan 60-40. Dengan kata lain dari total yang diterima terdakwa sebesar 60 persen diberikan kepada oknum Biro Kesra Pemprov Banten.

“Berdasarkan fakta persidangan, dari 1,1 miliar terdakwa hanya menerima Rp 350 juta saja, sisanya yang Rp 660 juta diberikan kepada oknum Biro Kesra sedangkan Rp 90 juta lagi diberikan kepada Bahaudin sebagai fee pembuatan proposal,” urainya.

Mendengar putusan tersebut, terdakwa Ahmad Suhari tampak shock. Ditanya majelis hakim atas putusan tersebut dengan bergetar dia menerima putusan setinggi apapun asalkan pelaku lainnya harus mendapat perlakuan yang sama. “Saya ikhlas yang mulia, ada permintaan saya yang terakhir, saya mohon Dayat dari Biro Kesra yang menerima komitmen, Kutni dan Bahaudin yang menerima uang tersebut di usut dan tidak melakukan tebang pilih,” pintanya.

Atas putusan tersebut, baik Jaksa Penuntut Umum maupun penasehat hukum terdakwa keduanya akan terlebih dahulu mempertimbangkan putusan tersebut untuk melakukan upaya hukum lainnya. “Kita lihat saja nanti, jadi kita pikir-pikir apakah atas putusan ini kita banding atau menerima, kan masih ada waktu untuk pikir-pikir dulu,” ujar penasehat hukum terdakwa Pepen Peni Yuda dan Dadang Handayani.

Seperti diketahui,  Ketua Yayasan Al-Ishlah Ahmad Suhari di dakwa telah melakukan dugaan tindak pidana korupsi dalam bantuan dana hibah tahun 2013 senilai Rp 1,1 miliar. Sayangnya, dalam perkara ini, jaksa penuntut hanya menempatkan satu orang tersangka saja, padahal baik dalam petunjuk dan saksi fakta ada pihak lain yang menerima dan menikmati uang tersebut.

Kepala Biro Kesra Pemprov Banten, Irvan Santoso yang saat itu pada tahun 2013 sebagai tim verifikasi turut di periksa kejari Lebak dan kesaksiannya tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Lagi-lagi dalam persidangan, jaksa tidak mampu menghadirkan Irvan yang semestinya keterangan Irvan sangat ditunggu-tunggu. Begitupun anak buah Irvan, staf di Biro Kesra Pemprov Banten, Dayat Hidayat, ketika akan dikonfrontir dengan beberapa saksi fakta yang memberikan uang komitmen sebesar Rp 660 juta, juga tidak hadir meski sudah dipanggil secara patut.

Ahmad Suhari didakwa melakukan tindak pidana korupsi penyimpangan dana hibah Provinsi Banten Tahun 2013, dia didakwa sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dan atau pasal 3 Jo pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tipikor Jo undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (Azmi)

 

KOMENTAR DISQUS :

Top