Indonesia English
Minggu, 05 Juli 2020 |
Kesehatan

WARTAWAN HARUS HIDUP SEHAT & BEROLAHRAGA. JIKA TIDAK, BISA JADI PASIEN CUCI DARAH SEPERTI SAYA

Kamis, 28 Mei 2020 18:30:23 wib - Komentar
WARTAWAN peliput bidang Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi sesaat sebelum mengikuti acara Pers Conference di Gedung Telkom Jakarta (2009).

 

Oleh : Seno Supono.

MENJADI Jurnalis adalah profesi pilihan. Bukan profesi alternatif karena kurang berhasil disatu bidang lalu alih profesi dibidang jurnalistik.

Saya tidak berlatar belakang pendidikan ilmu Komunikasi Massa tapi dari disiplin ilmu Administrasi Negara.

Namun dengan berlatarbelakang Ilmu Administrasi Negara cakrawala penulisan saya utamanya untuk penulisan bidang Pemerintahan menjadi bertambah luas karena semasa kuliah di Akademi Administrasi Negara Bandung (AAN) memperoleh mata kuliah Pembangunan Masyarakat Desa, Human Behavior, System Sosial Indonesia, Human Relations, Public Relations, Ilmu Statistik, Ilmu Politik dan mata kuliah pendukung lainnya.

Saya mengawali karier jurnalistik dikota Bandung setelah tamat kuliah pada 1985.

Jika wartawan Jakarta biasanya ngepos di Departemen atau kini Kantor Kementerian sehingga bentuk penulisannyapun spesial, namun kami yang didaerah harus bisa menulis hampir seluruh bidang. Mulai bidang Pemerintahan, seni, olahraga, pariwisata dan lain sebagainya.

Selain menulis bidang Pemerintahan, saya juga menulis bidang Kebudayaan, seni musik dan seni tradisional Sunda.

Saya berteman baik dengan Budayawan Sunda yang amat tersohor Kang Tjetje Hidayat Padmadinata, Kang Gugum Gumbira Tirasonjaya, penemu seni tradisional Jaipongan yang amat melegenda. Kang Gugum satu almamater dengan saya. Bedanya saat itu saya masih ditingkat Akademi, kang Gugum sudah tingkat Doctoral.

Saya juga bersahabat dengan seniman tulen Baun Gozali pemilik padepokan seni dikawasan Tegalega, Bandung.

Karena kinerja saya dinilai baik oleh Pemimpin Redaksi, akhirnya saya ditarik ke Jakarta menjadi Redaktur Pelaksana.

Di Jakarta saya tetap menulis bidang Pemerintahan dan DPR RI serta bidang Pariwisata.

Di Jakarta,  saya semakin mengintensifkan juga penulisan saya dibidang musik. Karena memang saya hoby musik.

Musisi - musisi tenar yang semula hanya bisa saya pandang melalui layar kaca TVRI semasa saya SMA dikota Salatiga (Jateng), kini saya temui dan saya wawancarai satu persatu. Antara lain Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo dan Murry (Koes Plus), Nomo Koeswoyo dari band No Koes. Reynold Panggabean dan Rinto Harahap (Band The Mercys), Benny Panjaitan (Panbers), Usman, Said dan Sofyan pemain band Usman Bersaudara, Jelly Tobing (top drumer Indonesia dari jalur musik rock), Iin Parlina, Titik Hamzah, Hetty Koes Endang hingga pelawak legendaris Asmuni dari seni panggung Srimulat.

TERIMAKASIH KAK ROS

Dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan rasa terimakasih dan rasa hormat kepada wartawati senior Kak Ros atau Ibu Rukiah Rosalyna Siahaan. Beliau yang membuka jalan saya menuju profesi jurnalis.

Saya yang semula wartawan biasa -:biasa saja setelah digembleng dengan keras dan tegas dari sisi etika jurnalistik dan moral, sehingga saya bisa menjadi wartawan yang bisa diandalkan. Kak Ros adalah mentor saya dan guru besar saya dibidang jurnalistik.

MUSIBAH DATANG

Sebagai Redaktur Pelaksana, saya masuk kantor jam 17.00 dan pulang pukul 01 dinihari. Kantor dikawasan industri Pulogadung dan rumah di Bekasi.

Ketika pulang kantor, insting jurnalistik saya tertarik dengan kerumunan orang yang lokasinya tak jauh dari rumah saya. Apa gerangan yang terjadi ?. Tanya saya dalam hati.

Ternyata disitu ada warung nasi uduk Betawi. Pantas saja menyebar  aroma harum dan gurih.

Sejak itu selama 5 tahun saya menjadi "sandera" warung nasi udug. Sambal kacang yang lezat dan rempeyek udang hangat adalah menu favourite saya.

Usai makan nasi udug, saya langsung tidur nyenyak didepan pesawat televisi sampai pagi. Tak terasa saya telah bertindak ceroboh karena diam - diam menumpuk gula darah ditubuh saya.

Disamping itu, saya malas berolahraga.

Fasilitas olahraga sebenarnya memadai dan sering digelar pertandingan sepakbola antara pejabat dan wartawan.

Tapi saya selalu tidak minat. Saya lebih memilih menjadi agen penitipan barang milik wartawan seperti jam tangan dan cincin emas milik rekan wartawan.

Sambil berseloroh kepada rekan - rekan wartawan saya bilang " Kalau semua wartawan turun kelapangan siapa yang ngasih tepuk tangan dan siapa pula yang meliput," kata saya yang langsung diiyakan oleh teman - teman wartawan.

Proses penumpukan gula dibadan berjalan terus. Apalagi sebagai wartawan yang juga meliput bidang Pariwisata, rasanya seluruh hotel megah yang bertengger gagah dikawasan Sudirman dan Thamrin Jakpus, kulinernya sudah saya coba. Makanan lezat dan berkelas itu  semua saya nikmati secara gratis atas undangan saat pers conference.

Dan musibah datang tanpa memberi peringatan. Tahun 2006 saya kena penyakit Diabetes type 2 atau diabetes kering.

Namun saya tidak kecil hati karena terus menata hidup lebih disiplin.

Kemana mana saya selalu membawa susu Diabetasol. Makan siang secukupnya. Hindari makanan manis namun tetap tidak suka olahraga. Gula darah yang mencapai 300 akhirnya bisa saya tekan menjadi 160.

Karena terlalu percaya diri tekanan gula darah terus turun saya abai minum obat. Saya merasa sehat, aktifitas normal dan tenaga saya sejak kena diabetes rasanya hanya mengurangi 10 persen saja. Saya tetap bisa latihan band di studio berjam - jam atau touring dengan motor Tiger ke Majalengka, Kuningan dan Bandung. Diabetes ternyata tidak menghambat aktifitas saya sebagai jurnalis dan saya tetap aktif mengikuti kunjungan pak Menteri ke daerah.

Ternyata kelas VVIP tempat duduk menteri  di pesawat dengan tempat duduk saya yang dibelakang hanya dipisahkan oleh hordeng saja. Bedanya dikelas VVIP ditambah fasilitas bacaan koran dan majalah. Tapi soal sajian makanan  sama lezatnya.

MALAPETAKA DATANG LAGI

3 bulan sebelum Desember 2019 setiap usai makan perut terasa asam. Saya menduga terserang sakit mag. Setelah minum obat mag tak kunjung sembuh.

Desember 2019 saya sering muntah. Mulai sehari sekali. Lama - lama sehari bisa 7 kali.

Saya lalu memeriksa ke dokter ahli penyakit dalam. Setelah chek laboratorium, dokter mengatakan bahwa ginjal saya telah rusak. Mendengar itu saya seperti tertimpa truk container. Agar nyawa saya bisa diperpanjang, sesuatu yang saya takutkan terjadi yakni Cuci Darah atau istilahnya Hemodialisa.

Akibat kecerobohan saya dimasa lalu, kini saya jadi pasien cuci darah.

Proses cuci darah yang semula menakutkan diri, ternyata tidak seseram yang saya bayangkan.

Ruangan Hemodialisa yang bersih dan  nyaman, pendingin udara terkontrol, dilengkapi dengan perawat pria dan wanita yang ramah, rendah hati, penuh simpati dan cekatan membuat suasana di ruang Hemodialisa seperti keluarga besar yang saling asah, asih dan asuh.

Saya memilih tempat tidur dipinggir sehingga bisa memandang indahnya kehidupan. Saya selalu ingat kata - kata penyair besar dari kota Medan Khairil Anwar " Ku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi ".

Setelah proses cuci darah,  dunia serasa terang kembali, badan terasa enak dan saya tetap bisa menjalankan profesi Jurnalistik.

Kepada rekan wartawan seluruh Indonesia, hilangkan rasa enggan mengurus kartu BPJS. Memulai hidup sehat, makan teratur tidak jor - joran dan rajin berolahraga. (SS)

KOMENTAR DISQUS :

Top